20110105

Resolusi 2011? Waduh…

Waduh… udah 5 hari di tahun 2011. Entah apa karena saya tergolong manusia tanpa cita-cita sehingga 5 hari pertama tahun ini dilewati tanpa resolusi. Saya sendiri tidak tahu apa alas an orang menyebut cita-cita atau tujuan hidupnya dengan sebutan “resolusi” karena setahu saya resolusi adalah kedalaman detil gambar digital. Hahaha… Itulah teori warung kopi saya yang unsur sok tahunya lebih dominan dibanding unsur ilmiahnya.

OK lah. Biarpun saya tidak tahu kenapa cita-cita atau tujuan hidup itu disebut resolusi, saya akan sedikit mengungkap alasan betapa saya “tidak begitu bersemangat” menyusun “Resolusi 2011.”

Tujuan hidup bagi saya adalah sesuatu yang ingin dicapai di masa tertentu. Misalnya waktu kecil dulu, saya bercita-cita menjadi tentara. Artinya, saat saya dewasa, saya ingin bekerja sebagai tentara. Kapan itu saat saya dewasa, ya saat saya berusia 20an. Begitu pun dengan Resolusi 2011. Resolusi 2011 artinya adalah tujuan hidup yang akan saya capai di tahun 2011. Misalnya saya ingin naik pangkat, saya akan sekolah lagi, saya akan menambah anak (oh… tidak. biaya sekolah mahal!), saya akan memulai wirausaha sampingan supaya saya menjadi kopral rejeki jenderal, dll.

Bukankah setiap tujuan hidup membutuhkan upaya? Oleh sebab itu, resolusi pun harus disertai rencana upaya untuk mencapainya. Kalo Desember 2011 nanti saya harus sudah punya usaha dengan omzet 10 juta per bulan misalnya, saya harus memulainya dengan apa yang saya punya sekarang. Misalnya memulai usaha dengan omzet 1 juta per bulan di bulan Januari 2011. Lalu saya harus menabung dari hasil usaha saya sebagai penambah modal. Dengan demikian, usaha saya diharapkan bisa beromzet 10 juta per bulan di Desember 2011.

Itu untuk resolusi berwirausaha. Bagaimana dengan cita-cita lainnya? Bagaimana tentang sekolah lanjutan? Bagaimana tentang mutasi kerja di Yogya? Bagaimana tentang ini dan itu lainnya?

Sejujurnya, saya belum sempat merumuskan detil resolusi 2011. Saya harap bisa merealisasikannya setidaknya di akhir Januari 2011. Semoga. Amiiin…!!!

NB. Ini makna resolusi menurut kamus Oxford. Semoga bermanfaat.

resolution

· n.

1 the quality of being resolute.

2 a firm decision. Ø a formal expression of opinion or intention agreed on by a legislative body.

3 the action of solving a problem or dispute.

4 Music the passing of a discord into a concord during the course of changing harmony.

5 Medicine the disappearance of a symptom or condition.

6 the process of reducing or separating something into components.

7 the smallest interval measurable by a telescope or other scientific instrument.

8 the degree of detail visible in a photographic or television image.

20100922

Hidangan Lebaran di Rumah Mas Donny


Lebaran kali ini, saya bersilaturahmi dengan Mas Donny dan keluarga. Sekali lagi saya diperlakukan istimewa di sana. Menu utama: obrolan santai dengan tawa di sana-sini. Menu tambahan: gulai kambing, berbagai jenis kue dan minuman dingin. Mantap!





20100411

Penulis, kok, jarang menulis…!!!

Beberapa bulan lalu, saya membaca catatan seorang teman di halaman FBnya. Di tulisannya itu, dia menyebut dirinya adalah seorang penulis yang paling tidak produktif di antara penulis-penulis Kristiani lainnya. Dua 'telapak tangan' menampar saya saat itu. Pertama, saya yang hobi menulis “menulis” di kolom hobi pada biodata saya ternyata juga sangat jarang memublikasikan tulisan. Statistikanya secara persis, saya juga tidak tahu. Yang jelas, kolom catatan pada akun FB dan blog saya belum tentu terisi satu tulisan baru dalam sebulan. Kedua, sebagai seorang Kristen, tentunya alangkah baiknya jika saya menulis yang baik untuk membangun iman sesama Kristiani. Tapi rupanya, di antara sekian sedikitnya tulisan yang saya publikasi, tidak ada satu pun “tulisan rohani.”
Ternyata saya jauh dari kedua kriteria tersebut. Saya bukan seorang penulis yang produktif dan bukan pula seorang penulis Kristiani. Lalu apakah saya?
Tahun 2009 saya awali dengan satu tekad sederhana: saya mengisi blog saya setidaknya dua tulisan tiap bulan. Sekilas, ini terdengar mudah, bukan? Berarti cukup satu tulisan tiap dwiminggunya. Tapi apa yang terjadi adalah hal yang memrihatinkan. Bukannya saya tidak berusaha sama sekali. Saya kadang membaca, merekam hidup saya di rentang waktu yang pendek atau melakukan pengamatan lain demi memenuhi bahan tulisan saya. Tapi seringkali semua itu terhenti di atas tuts papan kunci dengan otak yang terasa beku, dan kadang terasa semburat oleh ide liar yang berterbangan ke sana-sini-situ. Belum lagi bayangan saya bahwa tulisan yang dihasilkan kelak harus berkualitas. Beberapa blog yang saya kunjungi punya statistik tulisan yang sangat tinggi. Namun sayang kualitas tulisannya kurang sip menurut saya. Dan saya tidak mau blog saya seperti itu. Di awal ngeblog, saya pun tergoda untuk seperti itu. Dosa saya lakukan dengan mencantumkan materi yang seratus persen bukan karya saya. Maka saya ingin bertobat.
Kembali tentang proses penulisan, ide yang mampat di ujung jari di atas papan kunci tadi akhirnya terbengkali oleh pekerjaan dan aktivitas baru setelahnya. Seperti jejak di atas pasir yang sekejap hilang oleh angin dan hujan. Berhari-hari, berminggu-minggu hingga akhirnya menguap tanpa bekas. Walau saya ingin kualitas tulisan yang baik, saya tidak bermaksud menulis tesis apalagi disertasi. Setidaknya, cukup sebuah tulisan ringan yang bergizi tapi lezat dikonsumsi. Rupanya saya harus lebih keras berusaha dan mengelola waktu dan tenaga saya untuk menulis kalo memang serius menulis.
Tentang menulis bertema Kristen, sudah lama sekali saya tidak melakukannya. Terakhir saya lakukan itu adalah saat mengurusi buletin persekutuan mahasiswa Kristen di masa kuliah dulu. Walau tidak banyak, saya berusaha menulis beberapa artikel Kristen. Namun semuanya terhenti sejak saya lengser dari kepengurusan. Inilah jeleknya saya, apa pantas seorang disebut penulis bila menulis hanya karena kewajiban struktural sebagai seorang anggota redaksi? Saya rasa tidak. Tapi itulah saya. Tidak melakukan kalau tidak terikat tanggungjawab. Bahkan saat terikat tanggung jawab pun, tulisan seringkali baru selesai di saat tenggat waktu tiba.
Saya sangat mengagumi beberapa teman yang suka menulis dan beberapa penulis tenar. Salah seorang teman sangat berbakat bertutur tentang rasa syukurnya kepada Tuhan. Walau pun dia pernah mengeluhkan hal yang sama seperti saya, yaitu matinya ide di ujung jari di atas papan kunci, setidaknya blognya jauh lebih terpelihara dibanding blog saya. Berkat pun mengalir dari tulisan-tulisannya. Ini terlihat dari komentar teman-temannya di bawah tulisan-tulisannya.
Teman yang lain pun demikian. Walau pun sudah lama absen dari kegiatan menulis karena kesibukan pekerjaan, dia pun masih mampu menelurkan tulisan yang sangat berkualitas. Itu terjadi saat dia memaksakan dirinya menulis terkait pendidikan lanjutannya di bidang teologi. Bobot kecerdasan sejatinya yang terpancar dari tulisannya tidak membuat saya yang ber-IQ pas-pasan ini sulit menangkap apa maksudnya. Saya dengan mudah merangkai ide-idenya itu. Sangat hebat. Maksudnya, dia sangat hebat menulis. Bukan saya yang sangat hebat membacanya.
Seorang teman yang lain, dia masih cukup muda, sedang giat-giatnya mengumpulkan bahan untuk tulisannya. Dia berencana menulis sebuah novel yang berangkat dari potret keseharian kelompok masyarakat tertentu. Dalam suatu diskusi lewat surat elektronik, terlihat gairahnya untuk menulis sangat besar. Tentu dia tidak ujug-ujug ingin menulis novel. Saya beberapa kali membaca tulisan catatannya di FB pun sangat baik. Ide cemerlang dan sederhana dirangkai dalam bahasanya yang lugas dan “dia banget.” Bahasa yang “dia banget” ini bahkan masih dalam koridor tata bahasa Indonesia yang cukup baik. Modalnya untuk menulis novel sangatlah besar.
Saya jadi malu sendiri. Tampaknya mengisi “menulis” di kolom hobi dalam biodata saya masih harus dipertimbangkan lagi. Karena saya masih lebih suka memperbarui status FB yang bahkan kadang bernada lebay. Ah, kalo yang ini lebih karena saya termasuk narsis yang menggemari budaya instan.

20100203

Peta yang Berbicara



Satu kesempatan berharga telah saya peroleh sekali lagi, yaitu mengikuti lokakarya berjudul “Menyajikan Informasi secara Visual melalui Peta dan Poster” yang diselenggarakan oleh komunitas pembaca National Geographic Indonesia (NGI) Yogyakarta pada Minggu (31/1) malam. Inti dari lokakarya ini adalah berbagi informasi tentang cara menyajikan poster dan peta sebagai penunjang tulisan (laporan, feature atau berita). Pembicara acara tersebut adalah Lambok E. Hutabarat, seorang penata letak (layouter) NGI dan Danu Pujiachiri, seorang kartografer NGI. Sedangkan moderator adalah Purwo Subagiyo dari redaksi majalah NGI.
Secara singkat, dijelaskan oleh kedua pembicara, peta dan poster seringkali disisipkan oleh majalah NG karena informasi yang diangkat majalah tersebut secara umum bersifat keruangan. Sehingga segala informasi yang dipaparkan dalam tulisan akan jauh lebih mudah dipahami bila dibantu oleh peta dan poster. Misalnya adalah rangkaian tulisan tentang pola migrasi burung di Indonesia. Burung A yang bermigrasi dari pulau pertama, lalu ke pulau kedua, ketiga untuk selanjutnya terbang ke negara Anu akan lebih mudah dipahami pembaca dengan bantuan peta. Contoh kedua adalah rangkaian tulisan tentang kawasan konservasi di suatu kabupaten. Pembagian kawasan menjadi kawasan industri, permukiman, dan perlindungan akan jauh lebih mudah dipahami juga dengan peta. Peta tersebut menggambarkan pembagian tersebut dengan beberapa butir informasi yang dianggap penting.
Prinsip dasar peta yang berhasil saya catat dari pemaparan Danu adalah pengertian peta sebagai gambaran sebagian atau seluruh permukaan bumi di bidang datar. Syaratnya antara lain adalah (1) harus membuat pembaca lebih mudah mengerti, (2) sesuai kenyataan di lapangan, dan (3) enak dipandang. Salah satu indikasi keberhasilan pembuatan peta adalah pembaca mengerti informasi yang hendak disampaikan. Hal yang sulit adalah meramu begitu banyaknya informasi ke dalam peta yang cukup sederhana namun berbobot. Jangan sampai pula saking sederhananya, peta tersebut miskin informasi. Tapi peta yang menyajikan informasi begitu komplet hingga ramai dan meriah sampai sulit dibaca juga kurang baik. Di sinilah letak tantangan si penata letak untuk membuat peta yang menarik dan informatif. Untuk itulah si penata letak harus pandai bermain warna dan simbol yang sangat membantu bagi peta tersebut untuk “berbicara” kepada pembacanya secara lebih sederhana. Seperti layaknya sebuah tulisan ilmiah, peta yang menyertainya juga harus ilmiah alias sesuai dengan kenyataan. Untuk itulah survey lapangan juga penting.
Proses pembuatan peta diawali dari rapat redaksi yang menentukan tema apa yang akan diangkat. Tema tersebut tentunya terutama akan diungkap melalui serangkaian tulisan. Peta dan poster selanjutnya ditentukan dalam rapat desain tentang hal apa yang akan ditampilkan. Selanjutnya, tim NGI akan melakukan rapat dengan berbagai pemangku kepentingan (stakesholder) yang memiliki data dan informasi yang diperlukan untuk ditampilkan dalam peta itu kelak. Termasuk dalam langkah ini adalah survey lapangan. Dalam survey ini, fotografer mengumpulkan gambar yang memperkaya tulisan dan peta nantinya. Tempat-tempat penting juga dicatat koordinatnya agar peletakannya di peta sesuai dengan kenyataan di lapangan. Setelah data dan informasi terkumpul, maka pembuatan peta alias pemetaan pun dilakukan. Danu yang melakukan hal ini. Setelah itu, Danu menyerahkan hasil pekerjaannya ke Lambok untuk dirancang sedemikian rupa agar dapat ditampilkan dalam peta yang menarik dan informatif. Ada satu lagi tokoh yang penting yaitu penyuting alias editor (namanya Bayu, tidak datang dalam pertemuan ini) yang menyuting naskah informasi dalam peta. Editor ini pula yang menentukan butir-butir penting dalam tulisan yang akan diletakkan di poster dan peta. Dengan demikian, ada kerjasama yang erat antara penulis, penyuting, kartografer dan penata letak.
Rupanya NGI adalah redaksi pertama di dunia untuk redaksi berbahasa lokal yang memiliki divisi pemetaan tersendiri. Hal ini menjadi tantangan bagi Lambok yang berlatar belakang pendidikan desain grafis untuk belajar pemetaan secara otodidak. Diakuinya hal ini sulit. Apalagi untuk memroduksi peta sekelas peta-peta yang telah diproduksi oleh majalah National Geographic berbahasa Inggris. Beberapa karya pertamanya pun diakuinya jelek. Namun dari situlah dia belajar banyak hal tentang peta dan penyajian informasinya. Setiap orang di dalam dapur redaksi NGI memang harus serba bisa. Bahkan Lambok pun, dan setiap orang yang terlibat dalam proses penyiapan materi, harus ikut serta mengritisi tulisan agar enak dibaca. Dari sisi teknis, Danu berbagi informasi tentang perangkat lunak yang digunakannya. Dia menggunakan berbagai perangkat, baik perangkat lunak berbayar mau pun yang gratisan. Syarat sederhananya adalah format produk dari perangkat pemetaan tersebut harus nyambung dengan format yang digunakan oleh Lambok dalam mendesain grafisnya kelak, misalnya “Adobe Illustrator” dan format “tiff”. Sedangkan sumber peta yang digunakan antara lain dari Bakosurtanal (Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional) dan SRTM (Shuttle Radar Topography Mission), yaitu salah satu satelit milik NASA.
Selain peta, poster yang diterbitkan NGI juga menampilkan ilustrasi berupa gambar lukisan dan foto. Menurut Lambok, lukisan dan foto sama-sama berfungsi untuk memperkuat penjelasan dalam peta. Apa yang dipilih untuk ditampilkan, itu tergantung kondisi. Foto memiliki kekuatan gambar yang sesuai kenyataan. Namun tidak semua obyek keterangan bisa ditampilkan dalam foto. Misalnya ilustrasi tentang tokoh yang sudah meninggal, atau tentang ikan laut dalam. Hebatnya, lukisan yang menampilkan ilustrasi hewan di dalam artikel lokal majalah NGI dibuat oleh ilustrator Indonesia. Misalnya ilustrasi burung yang dibuat oleh Agus Priyono, seorang anggota Bird Watching Indonesia. Setiap bahan ilustrasi pun tidak segera dimuat karena harus dikonsultasikan dengan ahlinya. Begitu pun dengan tulisannya. Redaksi NGI memiliki beberapa orang ahli dalam jajaran badan ahlinya (board of experts). Hal ini untuk menjaga agar setiap informasi yang diterbitkan oleh NGI dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Dalam diskusi, terkuak beberapa hal menarik. Antara lain dengan hadirnya Pak Zulkarnaen, seorang guru geografi di sebuah SLTA di Kabupaten Sleman. Beliau menyampaikan tentang betapa membosankannya pelajaran geografi di bangku sekolah. Salah satu penyebabnya adalah kakunya metode pemetaan yang diajarkan. Lambok mencoba menjelaskan bahwa sebaiknya ilmu pemetaan jangan dibuat terlalu kaku. Contoh kecilnya adalah pembuatan simbol legenda. Modifikasi dari simbol-simbol tersebut dapat membantu peta menjadi lebih menarik. Namun demikian tetap ada beberapa aturan dasar yang tidak boleh dilanggar, Danu coba mengingatkan. Danu juga menceritakan pengalamannya bersama Bakosurtanal melatif guru-guru geografi di Takengon, NAD. Keterlibatan masyarakat dalam membuat peta juga perlu diperhatikan. Masyarakat dapat menjadi sumber informasi dalam pemetaan.
Salah satu peserta lokakarnya adalah seorang penggiat Peta Hijau Yogyakarta. Dia memberi gambaran tentang peta dari kacamata yang lain. Peta hijau memang gerakan masyarakat dari berbagai latar belakang yang rindu membuat lingkungan menjadi lebih baik melalui peta. Peta dinilai mampu mendekatkan manusia dengan lingkungan tempat tinggalnya. Menurut pengetahuan saya, salah satu kegiatan Peta Hijau Yogyakarta adalah pemetaan jalur sepeda bersama Pemerintah Kota Yogyakarta. Dengan peta jalur sepeda tersebut, masyarakat diharap mau kembali bersepeda dalam aktivitasnya seperti masyarakat Yogyakarta beberapa dekade lalu. Bukan sekadar demi nostalgia, tetapi demi Yogyakarta yang lebih baik tanpa polusi. Kehadiran anggota Peta Hijau Yogyakarta memperkaya wawasan peserta tentang manfaat peta.
Secara keseluruhan, lokakarya ini sangat bermanfaat bagi penggiat pers, seberapa pun besar-kecil lingkupnya. Menyajikan informasi yang berbobot dan menarik adalah tujuan dari setiap penerbitan media massa sehingga pembaca terus melahap informasi yang disampaikan. Peta dan poster adalah salah satu cara tim redaksi membuat informasi yang berkualitas seperti nasi dan sayur ditampilkan manis dan menarik seperti permen. Yum…!!!

20091021

Danau Tempe - dulu, kini dan esok

Danau Tempe, Sulawesi Selatan, adalah salah satu ekosistem lahan basah unik karena memiliki hubungan dengan beberapa danau kecil di sekitarnya seperti Danau Sidenreng dan Danau Buaya yang dianggap sebagai satu kesatuan ekosistem Danau Tempe. Danau Sidenreng termasuk ke dalam kawasan Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), sedangkan Danau Buaya masuk ke dalam kawasan Kabupaten Wajo. Danau Tempe dikelilingi oleh tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Wajo, Sidrap dan Soppeng. Saat musim banjir, luas Danau Tempe mencapai 30.000 hektar. Namun, saat kemarau, danau ini menyusut menjadi 10.000 ha.

Seumur dengan perkembangan budaya manusia di sekitar Danau Tempe, setua itulah sejarah perikanan di sana. Masyarakat sejak lama memanfaatkan sumberdaya ikan di Danau Tempe untuk kebutuhan gizinya. Di era tahun 1970an, Danau Tempe adalah salah satu pemasok utama kebutuhan ikan konsumsi di Jawa. Bahkan Danau Tempe sempat menjadi sumber terbesar ikan sidat untuk kebutuhan ekspor Indonesia. Danau Tempe memang memiliki cukup ragam sumberdaya ikan, antara lain ikan sidat dan ikan bungo atau beloso. Selain ikan konsumsi, Danau Tempe juga punya ikan hias air tawar yaitu Binishi (Oryzias celebensis) dan Celebes Rainbow (Telmatherina ladigesi). Pemasaran keduanya mencapai benua Eropa dan Amerika.

Dari sisi lingkungan, Danau Tempe memiliki arti penting. Selain sumberdaya ikan, ekosistem riparian di sekitarnya merupakan habitat berbagai jenis burung. Beberapa adalah burung migran yang melintasi antar benua dan singgah di danau tersebut di musim tertentu. Sebagian jenis burung masuk dalam Apendiks I dan II CITES (Convention on International Trade in Endangered Species), sebuah konvensi tentang perdagangan internasional atas hewan-hewan terancam punah. Bagi masyarakat sekitar, Danau Tempe adalah sumber kehidupan. Kandungan airnya menjamin keberadaan air tanah untuk minum dan mandi. Lahan di sekitar Danau Tempe tergolong subur. Kabupaten Sidenreng Rappang adalah lumbung padi bagi masyarakat Sulawesi Selatan dan sekitarnya. Semua tidak terlepas dari sistem lingkungan antara perairan Danau Tempe, sungai yang masuk dan keluar darinya serta daratan di sekitarnya.

Namun keindahan dan kemampuan Danau Tempe dalam menopang kehidupan masyarakat di sekitarnya memudar seiring berjalannya waktu. Danau Tempe mengalami pendangkalan, itulah kesimpulan banyak ahli lingkungan. Saat kemarau, airnya menyusut sangat drastis hingga danau yang mengering menjadi sumber konflik dalam pengusahaan pertanian. Saat musim hujan dan banjir, rumah panggung penduduk pun terendam. Seolah memaksa penduduk berhenti beraktivitas.

Belasan bahkan puluhan diskusi, forum, kajian, survey dan penelitian sudah dilakukan di danau kebanggaan masyarakat Bugis ini. Namun penduduk berkata bahwa tidak ada satu pun realisasi dari hasil penelitian tersebut. Mereka mungkin memang tidak mengerti seluk-beluk ekosistem dan istilah-istilah populernya. Apa yang mereka pahami adalah bahwa alam seharusnya menjadi wakil Tuhan sebagai pemenuh kebutuhan hidup manusia, bukan sebaliknya.

Sempat ada rencana pembuatan bendungan terapung di Sungai Cenrana, saluran keluar air dari Danau Tempe menuju laut di Teluk Bone. Sebagian masyarakat di hilir setuju dengan alasan supaya mereka tidak kebanjiran lagi. Sebagian masyarakat di tempat lain menolak keras dengan alasan bendungan akan memperparah pola aliran air Danau Tempe dan menghapuskan mata pencaharian mereka. Namun satu yang hampir pasti, bendung akan memutus jalur migrasi ikan sidat lalu memunahkannya.

Apa pun rencana yang sedang disusun dan segala analisanya, masyarakat Danau Tempe berharap danau itu dapat memberi kembali keberkahan seperti masa lalu. “Dulu, dengan menjadi nelayan, saya bisa berangkat naik haji,” ujar salah seorang nelayan. Ya, semoga kelak ada lagi kemurahan Danau Tempe bagi masyarakat di sekitarnya.

20091014

Memaknai Rumah - pembelajaran dari Tisna Sanjaya

Harian Kompas edisi Minggu, 11 Oktober 2009, menampilkan seniman Tisna Sanjaya dan rumahnya dalam kolom Rumahku di halaman 27. Pelukis asal Bandung tersebut membeli rumah di Desa Cigondewah, Kota Bandung, dari seorang kolektor. Dengan cara purbakala, Tisna menukar 6 lukisannya dengan sebidang tanah seluas 600 meter persegi. Lokasi tanah itu adalah tempat di mana sampah plastik menumpuk dan didaur-ulang.

Di tulisan tersebut diceritakan betapa lingkungan di situ sudah tercemar. Sungai yang sekarang melewati belakang rumah Tisna adalah saluran pembuangan limbah pabrik tekstil. Warna airnya tergantung pewarna apa yang dibuang di hulu sungai tersebut. Tanah di mana Tisna menggali untuk membuat pondasi rumah pun penuh berisi sampah plastik hingga kedalaman 2 meter.

Tulisan itu pun tidak secara eksplisit menuturkan niat Tisna mendirikan rumah di kawasan itu. Hanya ada secuplik kutipan jawaban Tisna saat ditanya warga tentang bangunan apa yang akan didirikannya di atas tanahnya. “Umumnya mereka tanya, apakah saya mau bangun gudang atau pabrik. Ketika saya bilang rumah tempat pendidikan, mereka terheran-heran,” ujarnya seperti ditulis Kompas.

Maka rumah itu pun disebut sebagai rumah singgah bagi setiap orang terutama warga sekitar Cigondewah yang tiap harinya bergelut di kerasnya dunia industri. Satu bangunan digunakannya untuk bersosialisasi dengan warga sekitar. Sedangkan satu bangunan lainnya untuk seniman yang tinggal dan ingin berkarya. Baginya, rumah tersebut adalah karya seni yang mengembalikan nilai seni pada asal muasalnya, yaitu memanusiakan manusia.

Penduduk Cigondewah yang telah lama terjebak pada pola industri rupanya secara tidak sadar telah berubah seperti robot. Kehilangan nilai sejatinya sebagai manusia yang punya budaya terhadap sesama manusia dan alam di sekitarnya. Penduduk terheran-heran ketika diajaknya menanam pohon. Bahkan pandangan mereka terhadap sungai pun hanya sebatas tempat pembuangan limbah.

Mungkin di sinilah tujuan Tisna hadir di tengah mereka. Mencoba menyadarkan kembali masyarakat di sekitarnya akan martabatnya sebagai manusia yang utuh. Hebatnya, Tisna datang tidak dengan genderang perang melawan industri. “Saya tidak membenci industri, tetapi sebenarnya tetap harus dilakukan dengan mempertimbangkan keseimbangan. Plastik boleh, tetapi jangan lupa solusi mengatasi pencemaran yang diakibatkan olehnya,” katanya.

Di sini saya tersentak dan memaknai ulang rumah idaman bagi saya kelak. Rumah bukan lagi sekadar tempat kita beristirahat setelah seharian membanting tulang mencetak uang. Bukan pula sekadar menaungi keluarga dari tindak kejahatan dan hujan petir. Namun rumah adalah tempat kita bersosialisasi dengan sesama manusia, antara ayah, ibu dan anak serta tetangga.

Ibu mertua saya pernah berucap bahwa tetangga lebih dari saudara. Tetangga adalah orang pertama yang datang saat kita mengalami musibah di rumah, entah misalnya kebakaran atau kecurian. Tapi bukan sekadar berdasar asas manfaat itu mengapa kita bertetangga. Bertetangga membuka peluang bagi kita untuk berbagi ilmu dan rasa cinta terhadap lingkungan. Seperti Tisna yang dengan cara damai membuka mata buruh pabrik terhadap pentingnya menjaga lingkungan tetap bersih dan asri. Buruh pabrik tersebut sebelumnya mungkin tidak pernah terpikir samasekali tentang manfaat menanam pohon karena apa yang ada di kepalanya hanya proses produksi yang menjadi tanggung-jawabnya di pabrik sehingga dia diberi upah untuk menafkahi anak-istrinya di rumah. Di rumahnya, Tisna berbagi rasa.

Konsep berumah seperti Tisna Sanjaya saat ini digerus oleh rasa saling curiga antar manusia. Perusahaan pembangun perumahan akhir-akhir ini pun menawarkan konsep rumah seikat (cluster). Tujuan konsep seikat ini salah satunya adalah untuk lebih mudah mengendalikan keamanan lingkungan. Bentuknya jelas, sekelompok kecil rumah dipagari tinggi-tinggi. Masuk ke komplek tersebut pun hanya melalui satu pintu yang dijaga petugas keamanan. Ketika saya memasuki salah satu komplek perumahan seikat di Serpong, saya harus menyebut nama pemilik rumah. Petugas satpam pun memperbolehkan saya masuk karena tujuan saya jelas. Itulah konsep berumah dan bertetangga saat ini. Jelas bahwa manusia kehilangan rasa amannya dan kepercayaannya terhadap sesama manusia.

Seorang dosen arsitektur dari Yogya, yang pernah juga muncul di rubrik yang sama dengan Tisna namun saya lupa namanya, pun mengritisi hal ini. Baginya, sistem seikat meruntuhkan nilai manusia sebagai makhluk sosial. Baginya, keamanan bukan diciptakan dengan cara memagari diri tinggi-tinggi dari sesama manusia. Justru merubuhkan pagar tembok dan bergaul erat dengan tetangga adalah “pagar keamanan” kita yang sejati. Lebih dari sekadar hal keamanan, bertetangga juga tentang berbagi dan saling memberi dengan tetangga.

20090109

Pemakaman di Awal Tahun

Selasa pagi, 6 Januari 2009, saya mendapat berita duka tentang kepergian ibu mertua salah satu teman kantor. Seorang teman mengabarkan bahwa almarhumah akan segera dimakamkan jam 11 siang ini juga di Taman Pemakaman Tanah Kusir. Saat itu juga, beberapa dari rekan mewakili kantor segera bertolak ke Tanah Kusir. Dari Ragunan, perjalanan cukup singkat karena melalui Tol Lingkar Luar Selatan yang menerobos langsung ke Jalan Veteran, Bintaro. Sekitar limabelas menit, kami tiba di komplek pemakaman. Di lokasi yang akan menjadi liang lahat masih sepi. Kami pun menyempatkan diri berziarah ke makam salah satu mantan pimpinan unit kerja kami. Almarhum meninggal pada tahun 2003. Saya belum bekerja di situ saat almarhum meninggal. Namun cerita kenangan tentang kebaikan, keusilan dan canda tawanya masih sering terdengar sampai sekarang. Seorang pimpinan yang sering main ke ruang kerja anak buahnya untuk sekadar menyapa atau mengobrol. Seorang pimpinan yang pintar. Begitulah seorang pimpinan baik akan dikenang di hati anak-anak buahnya.
Tidak lama saat kami berziarah, rombongan pengantar jenazah almarhumah ibu mertua teman kantor saya tiba di lokasi. Segera saja mereka menuju liang lahat yang telah disiapkan, di sebuah liang yang sama tempat almarhum suaminya dibaringkan untuk selama-lamanya. Suami-istri dalam satu liang lahat. Keluarga dan kerabat yang hadir tidak terlalu banyak. Anak dan cucu mengelilingi liang lahat sambil terisak. Sementara itu jenazah diturunkan ke dalam liang lahat untuk kemudian dikuburkan. Pemakaman secara Islam ini pun terus berlangsung dengan penaburan bunga dan pembacaan doa. Beberapa cucu almarhumah tampak tidak kuat menanggung kesedihan ditinggalkan nenek tercintanya. Bahkan seorang bapak yang sepertinya merupakan anak almarhum juga tidak kuat menahan air matanya. Beliau menangis sesenggukan.
Kematian di awal tahun ini secara saya tidak sadari membuat saya berpikir kembali tentang makna hidup. Awal tahun biasanya dipenuhi resolusi, angan-angan, cita-cita atau sebagainya yang intinya adalah harapan yang ingin dicapai di tahun yang baru dijalani. Namun di awal tahun ini, pergumulan saya tentang resolusi tahun 2009 seperti ‘terusik’ dengan kunjungan ke taman pemakaman. Kedatangan saya yang singkat di taman pemakaman Tanah Kusir membawa dampak yang cukup kuat terhadap pandangan saya tentang hidup.
Hidup ini begitu singkat. Seorang penyair agung menggambarkan hidup manusia hanya seperti rumput. Hari ini ada dan besok layu lalu lenyap tersapu angin. Enam puluh tahun usia rata-rata manusia. Kalau cukup sehat, manusia bisa mencapai tujuh puluh atau delapan puluh tahun. Jarang yang bisa menembus usia sembilan puluh atau seratus tahun.
Saya bertanya dalam hati tentang apa yang saya telah kerjakan dalam hidup. Tentang waktu yang telah saya lewati, tentang kesempatan-kesempatan yang saya sengaja lepas begitu saja, tentang pencapaian-pencapaian yang membanggakan, tentang kegagalan, tentang persahabatan dan permusuhan. Ada rasa syukur dan sesal atas semua itu. Apa arti semua pengalaman itu, kadang saya tidak mengerti.
Tahun 2008 adalah tahun yang penuh pergulatan. Begitu banyak anugerah saya terima dari Tuhan. Darrell Nathan Raditama adalah anugerah terindah tahun ini. Seorang anak yang menyadarkan saya akan kebesaran Tuhan dan pengorbanan orangtua kepada anak-anaknya. Pergumulan selanjutnya bersama Darrell dan istri saya juga menjadi batu ujian dalam hidup saya. Selain keindahan, saya juga merasakan kegagalan yang amat sangat dalam kehidupan karier saya. Saya merasa inilah tahun terburuk karena saya nyaris melewatinya tanpa torehan karya yang berarti.
Maka, sampai saat ini, saya masih bergumul tentang resolusi, cita-cita dan harapan untuk hidup saya dan keluarga di tahun 2009 dan selanjutnya. Harapan agar saya bisa lebih berkarya. Cita-cita untuk merintis pendidikan lanjutan. Pergumulan yang dimulai dari dalam diri saya sebagai seorang pribadi, seorang anak manusia. Sulit memang...
Sedikit mundur ke akhir tahun 2008, saya ingat saat ibadah malam tahun baru, 31 Desember 2008 di Yogya. Jimmy, seorang teman yang duduk di samping saya, menanyakan apa target saya di tahun 2009. Setelah saya menyebutkan target saya, dia menyebutkan apa yang menjadi targetnya. Dia bilang bahwa dia ingin lebih dekat lagi dengan Tuhan. Saya pun ingat seorang penyair pernah menulis bahwa takut kepada Tuhan adalah permulaan segala hikmat. Tuhan mengingatkan saya tentang apa yang utama harus saya raih terlebih dulu. Dengan hikmatNya, hidup saya tidak sia-sia. Pun dengan kematian saya kelak.

20080925

Duet - Merayakan Keberagaman

Selasa, 19 Agustus 2008. Pukul 20.00 WIB.

Jikustik, sebuah band beraliran pop asal Yogya, mengawali penampilannya dengan sebuah intro berirama cepat. Alunan musik disko yang riang memenuhi ruangan studio. Kata demi kata lirik “Nurani” milik band Netral mengalir lancar dari Pongky sang vokalis. Lagu dari sebuah band alternatif dibawakan secara sempurna dengan warna yang samasekali beda dengan warna lagu aslinya. Bagus sang vokalis Netral pun bergoyang dibuatnya. Sambil menonton dari tepi panggung, Bagus, Eno dan Coki tampak sumringah memerhatikan lagunya berganti warna.

Selesai Jikustik, kini giliran Netral membawakan lagu “Setia” milik Jikustik. Lagu sendu yang aslinya bertempo lambat itu pun dibawakan dengan cara Netral. Cepat dan berdistorsi kasar. Bagus melantunkan lagu melankolis itu dengan gayanya. Siapa yang belum mengenal Netral, akan menilai Bagus menyanyikannya secara asal-asalan. Tapi itulah Bagus dan Netralnya. Bukan mereka bermaksud asal-asalan atau menghilangkan jiwa lagunya. Pongky dan kawan-kawannya pun berjingkrak dari barisan penonton di tepi panggung. Pembawaan lagu itu oleh Netral pun bisa memberi makna berbeda dengan pembawaan lagu aslinya oleh Jikustik.

Penampilan kedua band tersebut adalah salah satu episode dari acara “Duet” yang ditayangkan oleh stasiun “Global TV”. Di eposode lainnya, ada band /RIF bersanding dengan Audy Item, atau band Drive duet bersama Maia Estianti. Tampaknya, si pencetus ide acara ini memang ingin mengadu dua musisi yang berbeda warna musik. Adu musik ini bukan untuk membuktikan siapa yang paling jago bermusik karena memang tidak perlu ada pembuktian itu. Toh kedua kubu yang tampil berlatar belakang jenis musik berbeda.

Mereka di sini tampaknya ingin bersenang-senang saja. Membawakan lagu lawannya dengan ciri khas sendiri tampaknya menjadi mainan baru bagi mereka. Mereka pun sumringah, mulai dari sekadar mengentak kaki mengikuti irama, sampai berjingkrak girang saat lagunya dibawakan dengan cara berbeda dari aslinya. Tidak ada ekspresi tidak terima bila lagunya dibawakan dengan gaya samasekali berbeda. Saling melontarkan pujian dan tepuk tangan antar kedua kubu musisi menjadi pemandangan mengasyikan di setiap akhir lagu.

Di akhir acara, kedua kubu berduet menyanyikan lagu dari masing-masing mereka. Perbedaan aliran dan warna vokal tidak mengurangi keindahan lagu yang dibawakan. Seperti saat Andi /RIF dan Audy Item berduet dalam harmoni. Warna vokal keduanya tentu berbeda jauh. Namun saat melihat mereka bernyanyi bersama di akhir acara seperti menguatkan pakem acara bahwa berbeda itu indah. Mereka seperti berpesta, merayakan keberagaman.

Di acara Duet tersebut, frase “berbeda itu indah” bukan slogan tanpa jiwa yang ditempel dengan spanduk. Perbedaan yang indah dinyatakan dalam aksi nyata. Ketika Jikustik memutuskan membawa lagu “Nurani” dengan irama disko bukan berarti mereka tidak menghormati Netral karena tidak membawa lagu itu dengan irama aslinya. Justru itu adalah cara mereka menghargai karya cipta Netral karena Jikustik terbukti mampu mengerahkan segala kemampuannya mengeksplorasi lagu tersebut lalu membawakannya dengan indah. Demikian juga dengan Netral saat membawa lagu-lagu milik Pongky dkk.

Ah, seandainya kemesraan para musisi berbeda aliran itu bisa dicontoh kita semua. Betapa indahnya masyarakat yang berbeda latar belakang bisa bekerja sama. Tidak ada yang merasa paling benar sehingga sipil menghancurkan sipil. Tidak ada yang merasa mayoritas sehingga bisa mendesak minoritas. Tidak ada yang merasa paling suci sehingga mencaci-maki si murtad atas nama tuhannya. Tidak ada…

Ah, mungkin saya terlalu banyak bermimpi. Mengharapkan kedamaian di tengah perbedaan multi-dimensi di negara yang beberapa kali mengalami kerusuhan berbau SARA ini mungkin memang mimpi berlebihan. Garuda Pancasila hanya sebatas lambang tanpa makna yang tergantung di ruang kelas anak sekolah hingga ruang kerja pejabat negara. Kasihan. Sedangkan, di luar sana, kebebasan beragama dan beribadah dipersoalkan, rumah ibadah ditutup dan dihancurkan, mata sipit menjadi hambatan pembuatan Akta Kelahiran, kewajiban pemakaian atribut salah satu agama di sekolah negeri kepada seluruh siswanya.

Lenyap sudah mimpi Bung Karno tentang harmoni dalam perbedaan. Mimpi yang pernah direnungkannya di bawah pohon sukun di Ende dalam pengasingannya oleh Pemerintah Belanda. Mimpi yang juga menjadi pergulatan para pendiri bangsa. Mereka berjuang menyatukan langkah tanpa mempersoalkan perbedaan suku, agama, pendidikan atau apa pun. Visi mereka jelas, Indonesia harus merdeka dan kemerdekaan itu untuk semua masyarakatnya. Dengan kemerdekaan, Indonesia bisa menentukan arah geraknya sendiri. Mereka mendambakan kemerdekaan atas wilayah, politik, pendidikan, pertanian dan setiap hal yang menjadi hak dasar manusia. Keputusan mereka untuk mendirikan sebuah negara berasaskan Pancasila yang menghargai perbedaan pun bukan sekadar keputusan sembarangan. Mereka sadar bahwa kemerdekaan hanya bisa dicapai dengan persatuan setiap insan dari berbagai latar belakang suku dan agama. Sehingga bangsa ini dan kemerdekaannya adalah milik seluruh bangsa. Tidak ada kelompok yang menonjol sendiri dalam peran memerdekakan bangsa ini. Apakah mereka menutup mata terhadap perbedaan itu? Tentunya tidak. Perbedaan tetap ada, namun bukan untuk dibeda-bedakan lalu menjadi penghalang kebersamaan. Justru perbedaan itu bisa menjadi keindahan tersendiri.

Barangkali memang inilah Indonesia sekarang, seperti lirik salah satu lagu Slank berikut:
INdah sekali
DOngeng tidurku
NEnek yang bercerita
SIApapun percaya
INDONESIA… INDONESIA…

20080923

SANGAT PENTING!

SANGAT PENTING! Dikabarkan bagi seluruh warga Indonesia yang mengetahui keberadaan Bang Toyib mohon untuk mengingatkan atau menasehatkannya untuk segera pulang ke anak dan istrinya. Kirim sebanyak-banyaknya pesan ini agar kita dapat membantu anak dan istri Bang Toyib biar mereka bisa bertemu kembali. Bayangkan sudah 3 kali lebaran dia belum pulang-pulang.... Terima kasih
Pesan di atas saya terima dari seorang teman. Pesan ini cepat menyebar di melalui fasilitas ngobrol virtual seperti Y!M dan Skype. Nggak perlu dibahas lebih dalam. Saya sungguh nggak punya ide ttg sesuatu yang brilian untuk dibahas dari pesan di atas. Tapi setidaknya ada beberapa catatan saya dari pesan di atas.
Lagu dangdut yang kemungkinan berjudul "Bang Toyib" sangat terkenal dan bahkan melekat di hati masyarakat Indonesia.
Hari raya adalah saatnya untuk berkumpul dengan keluarga. Itulah yang juga dirindukan oleh istri dan anak Bang Toyib.
Pencetus pesan ini sangat iseng. Sekaligus berjasa membuat banyak orang tersenyum di tengah himpitan masalah dateline pekerjaan menjelang libur lebaran dan THR yang belum atau nggak akan turun.

20080918

bapak-anak


Ini Closet Duduk, Bung!

Hati saya tergelitik saat membaca dua lembar peringatan di sebuah kamar kecil di salah satu rumah sakit di Yogyakarta. Peringatan ini berisi dua hal, yaitu bahwa closet alias jamban yang ada di ruangan itu adalah jamban duduk dan peringatan kepada pegguna untuk menyiram jamban setelah buang air besar dan kecil.
Sebetulnya peringatan ini agak berlebihan. Betapa tidak, manusia masih harus diingatkan bahwa jamban itu adalah jamban duduk, bukan jamban jongkok. Pengelola gedung berharap siapa pun yang akan menggunakan jamban ini melakukan dengan cara yang benar yaitu dengan posisi duduk saat buang air di atas jamban duduk. Banyak masyarakat Indonesia yang belum terbiasa dengan jamban duduk dan berposisi duduk saat buang air. Sehingga mereka memilih tetap jongkok di atas jamban duduk. Padahal hal ini berbahaya karena jamban duduk dirancang untuk digunakan sambil duduk. Beban tubuh si pengguna tidak akan sepenuhnya ditanggung si jamban bila pengguna duduk. Sebaliknya, bila pengguna jongkok, maka beban tubuhnya sepenuhnya ditanggung oleh si jamban. Itulah sebabnya jamban duduk beresiko pecah bila digunakan sambil duduk. Inilah informasi yang pernah saya terima tentang bahaya jongkok di jamban duduk. Jamban duduk itu pecah dan melukai si pengguna yang sedang termenung saat buang air.
Tentang peringatan supaya menyiram jamban setelah buang air tentunya lebih berlebihan lagi. Peringatan ini mungkin disebabkan kekesalan pengelola gedung karena kamar kecil itu sering berbau sebab tidak disiram setelah digunakan oleh pengunjung. Masalah ini bukan lagi masalah biasa-tidak biasa menggunakan jamban duduk. Tetapi merupakan cermin tingkat kepedulian masyarakat kita terhadap kebersihan. Siapa pun tahu bahwa setiap kotoran yang keluar dari tubuh kita itu sifatnya kotor. Namanya juga kotoran. Upil, keringat, pipis dan feses itu kotor. Jadi harus dibuang pada tempatnya. Maka menyiram jamban sesaat setelah buang air besar dan kecil adalah mutlak supaya tempat buang air itu tetap bersih. Hal ini menjadi lebih dari sekadar masalah estetika, bau-harumnya kamar kecil itu misalnya. Barangkali mereka yang tidak biasa menyiram sesaat setelah buang air itu terbiasa buang air di sungai atau comberan. Buang air di saluran air itu memang tidak perlu disiram. Toh feses atau pipis akan langsung hanyut. Tapi ini bukan sungai atau comberan. Ini kamar kecil yang kotorannya harus disiram supaya masuk ke penampungan bernama tanki kuman (septic tank).
Peringatan serupa saya temui tidak hanya di Yogyakarta. Bahkan di Jakarta pun saya pernah mendapatkannya. Cermin bahwa masyarakat kita belum terbiasa menggunakan jamban sesuai kodrat si jamban dan sering lupa menyiram jamban setelah buang air besar dan kecil. Bila memang mayoritas masyarakat kita tidak terbiasa menggunakan jamban duduk, kenapa harus memaksakan memasang jamban duduk di kamar kecil umum. Pengelola gedung sebaiknya mempertimbangkan hal ini.
Sebagian besar gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan di Jakarta menyediakan jamban duduk lebih banyak daripada jamban jongkok. Seorang teman saya sempat kelimpungan saat mengetahui jamban di suatu pusat perbelanjaan di Jakarta Pusat tidak menyediakan air untuk cebok. Dia tidak terbiasa cebok menggunakan kertas tisu yang disediakan. Kebiasaan serupa pasti melekat di mayoritas masyarakat kita yang lebih terbiasa cebok menggunakan air dan sabun. Bahkan konon kabarnya, panitia Olimpiade Beijing 2008 sempat diprotes negara-negara calon peserta karena sulitnya menemukan jamban duduk di arena-arena olahraga yang akan dijadikan lokasi pertandingan. Panitia berkilah bahwa mayoritas penduduk RRC lebih terbiasa dengan jamban jongkok sehingga mereka ngotot menyediakan jamban jongkok jauh lebih banyak daripada jamban duduk.
Masalah buang air bukan masalah sepele. Ini masalah kesehatan. Nggak heran kalau penduduk barat sangat memerhatikan kebersihan kamar kecilnya. Tapi bukan berarti kita ikut-ikutan budaya barat dengan “pro” jamban duduk dan kertas tisunya. Dengan tetap memerhatikan kebersihan kamar kecil, sebaiknya pengelola gedung menyediakan sarana yang sudah biasa digunakan masyarakat kita. Jangan sampai kamar kecil menjadi masalah karena sarana di dalamnya tidak bisa dimanfaatkan secara optimal. Apalagi bila si calon pengguna sudah kebelet, pikirannya hanya satu, bagaimana dia bisa buang air dengan nyaman dan aman.Sebagai pengguna, kita pun harus melatih diri menyesuaikan diri dengan lingkungan. Termasuk saat menemui jamban duduk saat akan buang air besar. Bila tidak terbiasa, tentunya perlu perjuangan ekstra. Latihan ini membantu kita saat kita berada di lingkungan yang asing dengan budaya asing, termasuk hal budaya bentuk jamban di luar negeri misalnya. Seperti pengalaman saya beberapa tahun lalu saat harus sering berhadapan dengan jamban duduk. Ternyata menggunakan jamban duduk membuat saya tetap bisa buang air besar sambil membaca koran dengan nyaman.

20080801

Anak Negeri

Ilir-ilir*)
Ilir-ilir
Tandure wis ngalilir
Tak ijo royo-royo
Tak sengguh penganten anyar

Cah angon
Cah angon
Penekno belimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekno
Kanggo mbasuh dodot tiro

Dodot tiro
Dodot tiro
Kumitir bedah pinggire
Domano jelumantono
Kanggo sebo mengko sore

Pumpung padang rembulane
Pumpung jembar kalangane
Giyo sorak
Sorak hore

Anak-anak negeri bermain di bawah rembulan
Batu, pohon, daun dan tanah menjadi kawan
Bapak Ibu bercengkerama dengan penduduk desa
Menjelang panen raya dengan sukacita

Negeri ini katanya negeri impian
Di mana melimpah ruah susu dan madu
Air mengalir bening dari gunung ke lautan
Buah ranum, padi berbulir tepat waktu

Namun semua tinggal kenangan
Seiring embun menguap di bawah terik mentari
Seiring traktor merambah hutan
Seiring sawah menjadi bangunan tegak berdiri

Anak-anak negeri lenyap seperti debu disapu angin
Menabur benih, memetik bulir sudah tak mungkin
Sekolah pun seperti mimpi di siang hari
Anak-anak negeri mengungsi dari rumah sendiri

Alam tak ramah lagi kepada manusia
Buah dan padi harus ditebus dengan segenggam rupiah
Padahal dulu anak-anak negeri dapat memetiknya sesuka hati
Namun semua kini harus dihadapi dengan harga mati

Hukum rimba di tengah kota
Mengubah manusia menjadi serigala
Anak-anak negeri luruh tanpa daya
Hidupnya menjelang senja

PDF 27
Akhir Juli 2008

*) Ilir-ilir adalah lagu dari Jawa. Tidak diketahui siapa pengarangnya dan sejak kapan dinyanyikan. Ada dugaan bahwa lagu ini diperkenalkan oleh salah satu Wali Sembilan dalam penyebaran agama Islam. Lagu ini biasa dinyanyikan anak-anak di Jawa Tengah saat bermain di bawah sinar bulan purnama.

20080731

Loper's Day 2008

Yup... inilah salah satu perhelatan di Jakarta yang paling heboh. Limapuluhribu loper koran (begitu kata penyelenggara) berkumpul bersama penerbit suratkabar untuk sama-sama bersenang-senang (itu pun kata penyelenggara). Tahun 2008 ini, Loper's Day diadakan pada 31 Juli 2008 di Pantai Karnaval, Ancol. Di lapangan yang biasa untuk konser musik gede-gedean ini, berdiri satu panggung besar dengan banyak tenda yang diisi berbagai pihak, mulai dari PMI, berbagai media cetak sampai penyedia layanan telepon seluler yang menjadi sponsor utama.
Berhubung acara ini dihadiri Wakil Presiden RI, Pak Jusuf Kalla, beserta Wakil Gubernur DKI Jakarta, Pak Prijanto, dan bos media-media skala nasional di Indonesia, maka persiapan pun dibuat serinci mungkin. Saya yang menerima undangan untuk menjadi relawan di acara ini pun terkaget karena nggak menyangka acara akan semegah ini. Setelah pertemuan antar relawan sehari sebelumnya di bilangan Kuningan, saya beristirahat untuk menyambut acara ini (ceileee...).
31 Juli 2008, jam 3 pagi buta. Weker berbunyi, saya bangun dengan tergesa, sempoyongan menuju kamar mandi. Jam 4, saya menuju Jalan Ciputat Raya untuk ketemu teman sesama relawan yang membawa mobil ke lokasi. Nebeng is the best way to save oil in its globally crisis. Teman itu pun baru saya kenal kurang dari 12 jam sebelumnya. Asas kepercayaan dan niat tulus melayanilah yang membuat kami bisa berangkat bersama (cieeeee...).
Jam 5 pagi harus tiba di lokasi untuk persiapan bersama Paspampres. What is the meaning of Paspampres? Paspampres = Pasukan pengamanan Presiden. Begitulah kalo ada kegiatan dengan lingkar utama negara ini. Eh, nggak tahunya, saya ditaruh di kelompok relawan yang membantu menyiapkan kebutuhan artis. Ternyata hasilnya hanya membawa beberapa dus minuman kemasan ke meja artis. Setelah itu, saya ditempatkan di pintu VVIP (Very Very Important Person) yang akan dilalui Pak Wapres dkk.
Thanx, God because You put me in this point. Saya bertugas di situ bersama tiga relawan cantik dan beberapa orang Paspampres. Pelajaran pertama, Paspampres itu ternyata baik. Nggak sesangar tampangnya. Mereka mau bercanda dan mengobrol di waktu luang. Banyak hal baru saya pelajari dari mereka seperti bagaimana menggunakan pemindai logam (metal detector). Seperti mainan, lho. Boleh juga punya satu untuk mainan anak saya kelak.
Pelajaran kedua, bergaulah dengan siapa saja. Termasuk dengan perempuan-perempuan cantik. Kalo kamu perempuan, bergaulah dengan pria-pria cakep. Jangan pernah pandang bulu! Pandang saja mukanya. Hm, maksud saya, jangan memanfaatkan kesempatan untuk hal jelek. Banyak teman baru saya temui di acara ini. Mereka datang dari berbagai latar belakang pendidikan, pekerjaan, agama dll. Nyambung nggak sih, dengan tiga kalimat pertama di paragraf ini? Tapi begitulah. Saya banyak belajar dari mereka, mulai dari pekerjaan-pekerjaan yang jauuuuuuuuuuuuh banget dengan pekerjaan saya, sampai bagaimana mengelola sekumpulan rekan kerja yang baru dikenal. Persahabatan adalah bonus setelah itu. Kalo masih lajang, dapat jodoh adalah jackpot! Jackpot, dude! Seperti yang saya alami di gempa Yogya 2006 lalu.
Pelajaran ketiga, nggak semua pekerjaan diukur ganjarannya dengan uang. Banyak hal harus kita lakukan dengan rela. Bangun pagi, keluar duit untuk ongkos dan makan dan capek adalah sedikit pengorbanan. Jangan sampai tangan kirimu melihat apa yang dilakukan tangan kananmu. Itu kata teman dekatku, Ronaldo Rotua Siregar, saat kami lulus SMP. Iklas seiklas-iklasnya harus dicamkan. Rasanya senang saat melihat loper koran dan keluarganya tersenyum melihat kami saat itu. Membagi-bagikan minuman, memberi informasi yang dibutuhkan dan menenangkan mereka yang mulai rusuh adalah bayaran yang jauh lebih berharga.
Pelajaran keempat, jangan terlalu banyak memberi pelajaran. Makanya pelajaran ini saya batasi sampai di sini. Terima kasih.
Betewe, kaos relawan gw yang dipinjem bos Suara Pembaruan kok nggak balik, ya? Pak, mana janjimuuuuuu....? :D

Bersama beberapa relawan cantik bin manis. Ini bonus, Kawan, karena niat tulusku menjadi relawan. Kapan lageee? Wakakakaka.... Horeeeee....

20080728

Krisis Listrik dan Es Dawet


Alamak... betul2 pemanasan global, neh. Kantor saya juga mengalami pemanasan. Tapi ini pemanasan lokal. Krisis listrik ibukota membuar semua penghuninya harus berhemat. Berhubung pemerintah yang menyampaikan himbauan penghematan, maka kantor saya pun berhemat. Karena saya bekerja di kantor pemerintah juga. Harus memberi contoh yang baik, dong...

Dan inilah contohnya. Mematikan sebagian lampu, menghentikan operasi sebagian lift dan menurunkan daya pendingin udara alias AC. Akibatnya, sebagian kantor saya gelap dan gerah. Rasa gerah makin menjadi tatkala harus mengenakan baju seragam. Untungnya, ruang kerja saya dilengkapi jendela yang bisa dibuka dengan ukuran super besar. Meja saya pun berada tepat di bawah lampu yang beruntung bisa menyala hari ini.

Maka pekerjaan saya pun nggak terlalu terganggu. Hanya sedikit merasa panas karena mengandalkan angin sepoi-sepoi yang enggan bertiup. Kancing baju pun saya lepas sebagian. Tapi itu hanya saya lakukan di meja saya. Lumayan daripada harus bermandi keringat seharian.

Saya sepertinya butuh segelas es dawet. Lengkap dengan saus gula merah yang meleleh di sela-sela potongan cincau. Dengan sedikit es yang mengembun di balik dinding kaca bening gelasnya. Slurrp... Nikmat...

Semoga krisis listrik yang membuat gerah ini membawa berkah bagi mereka yang menawarkan kesejukan, baik lahir maupun batin. Amiiiiin....

20080627

Tompi Bernyanyi untuk Saya! Hanya untuk Saya!

Sungguh, Tompi bernyanyi untuk saya! Hanya untuk saya!

Kalimat demi kalimat terucap melalui suaranya yang merdu. Lagu-lagunya tentang cinta, wanita dan kecintaannya pada musik. Diiringi petikan gitar yang padu dengan drum, bas, piano dan berbagai alat musik lainnya.
Sudah beberapa lagu dinyanyikannya. Walau saya tidak memberinya pujian, bahkan saya kerap bersikap mengacuhkannya, tapi Tompi terus bernyanyi. Lagu-lagunya membuat pagi saya di hari ini semakin cerah. Saya pun bisa konsentrasi berkutat pada pekerjaan saya. Memandangi baris demi baris tugas yang sedang saya ketik dengan tenang. Itu semua berkat Tompi yang terus bernyanyi tanpa henti, tanpa mengeluh. Bila suaranya kurang keras, saya bisa menambah volume suaranya. Bila terlalu keras, saya tinggal mengurangi volumenya. Mudah sekali. Dan tanpa keluhan dari Tompi sama sekali.

Tompi terus bernyanyi hingga tak terasa sudah satu album selesai dinyanyikannya. Kini giliran Melly Goeslaw bernyanyi untuk saya. Album solonya yang berjudul "Sendiri Dulu" menjadi pilihan. Si pencipta lagi paling produktif dan populer di Indonesia itu pun mulai bernyanyi. Sama seperti Tompi, teh Melly, demikian teman-teman dekatnya memanggilnya demikian, tidak mengeluh bernyanyi untuk saya. Satu per satu liriknya yang berkarakter kuat mengalir dari mulutnya.

Hm... indahnya hidup ini. Penyanyi besar Indonesia tidak segan-segan bernyanyi untuk saya. Hanya untuk saya. Tompi dan Melly, hingga Slank dan God Bless siap sedia bernyanyi untuk saya. Kapan pun saya mau mendengarkan mereka. Tanpa bersungut-sungut, mereka bernyanyi. Tanpa tersinggung, mereka pun bisa diganti dengan penyanyi lain oleh saya.

Oh... indahnya MP3 bajakan! Ruang kerja di kantor, kamar di rumah dan di mana pun saya bekerja, semua menjadi lebih terasa nyaman dengan lagu-lagu mereka. Koleksi saya sebetulnya tidak selengkap teman-teman saya karena selera musik saya terbatas. Walau tidak pandai bermusik, saya termasuk selektif untuk menyatakan seorang penyanyi atau sebuah kelompok musik itu bagus atau pas-pasan. Sombongnya saya dalam berselera musik membuat saya hanya menyukai beberapa penyanyi.

Tapi ruang kerja saya termasuk paling sering diwarnai musik. Sejak tiba di kantor hingga akan pulang kerja, ruang kerja saya jarang sekali senyap tanpa musik. Walau kebanyakan musik yang saya putar saya dapatkan dengan cara ilegal, yaitu menyalinnya dari teman. Tindakan ini dimasukkan ke dalam kategori pembajakan. Ya, saya pembajak lagu orang. Hanya beberapa yang saya beli legal berupa album resmi dalam bentuk cakram kompak lalu saya ubah formatnya agar lebih mudah diputar di komputer.

Sungguh saya mohon maaf kepada Tompi, Melly dan semua artis Indonesia yang telah saya putar lagunya tanpa saya bayar royalti kepada mereka. Sungguh saya masih merasakan mahalnya harga album mereka. Walau pun karya mereka sebetulnya jauh lebih mahal dari sekadar sekeping cakram kompak berisi lagu yang dibalut kertas sebagai sampulnya. Saya memang egois. Mau menikmati karya orang lain tanpa menghargainya secara material. Saya berjanji, saya tidak akan marah bila karya saya dibajak orang bila saya menjadi penyanyi atau pemusik terkenal seperti kalian. Tapi kapan ya, saya bisa seperti kalian?

20080626

kacamata - mata berkaca - mata berkaca-kaca

Huh...
Sungguh aku bosan berkacamata. Seuntai logam yang membingkai sepasang lensa ini semakin terasa sebagai beban dan menyulitkan. Merepotkan karena harus sering dilap. Menyulitkan saat memakai helm. Menyulitkan saat mengintip dari jendela rana kamera dan mikroskop. Mata minus ini betul-betul menyulitkan. Juga membuat saya tidak leluasa memakai kacamata penangkal sinar matahari yang saya beli dengan harga murah di Blok M.
Dulu, saat masih di bangku sekolah, saya ingin sekali pakai kacamata. Supaya terlihat agak ganteng. Maklum, muka saya pas-pasan. Tapi, saat itu, saya nggak punya alasan untuk memakainya karena mata saya sehat sentosa. Saat itu, saya kadang berharap mata saya menjadi minus agar saya punya alasan berkacamata. Pikiran yang saya anggap bodoh sekarang. Saatnya memang tiba. Saat duduk di kelas 3 SMU, mata saya minus. Lihat obyek yang jauh tampak buram. Kesulitan menyimak penjelasan guru sekolah, saya pun memakai kacamata. Tampak ganteng? Hm... Mungkin. Yang jelas, saya bisa membaca tulisan di papan tulis dari barisan belakang kelas.
Waktu pun berlalu hingga saya kuliah. Kuliah di bidang pemanfaatan sumberdaya perikanan yang banyak praktek lapang, termasuk berlayar. Kesulitan mulai terasa karena kacamata menghambat kegiatan luar ruang. Berlayar diterjang ombak dan hujan membuat kacamata saya basah kuyup. Melepasnya saat kondisi seperti itu juga tidak baik. Berada di sebuah kapal kecil di tengah laut gelap gulita yang sedang bergelombang bisa jadi sama dengan bunuh diri.
Bahkan kesulitan itu terasa di kegiatan dalam ruang. Seperti saat harus menggunakan mikroskop saat praktikum. Apa daya, semua harus dijalani.
Saya hanya ingin mata kembali sehat. Sehingga tidak ada lagi beban dan hambatan untuk beraktivitas. Lagipula kacamata terbukti tidak signifikan mengatrol nilai wajah saya. Saya ingin sembuh. Tapi saya nggak mau operasi. Selain karena nggak punya cukup uang untuk itu, minus mata saya tergolong kecil untuk dioperasi. Saya mencari obat tradisional yang bisa mengobati mata minus. Istri saya pernah pulih mata minusnya karena obat tradisional yang diberikan tetangganya saat tinggal di Samarinda. Sayangnya, istri saya nggak tahu resepnya.
Berat betul hidup berkacamata. Saran saya, jangan pernah bermimpi untuk berkacamata. Apalagi hanya sekadar untuk terlihat ganteng. Nggak penting! Satu yang paling penting adalah mata sehat waalfiat. Bisa menikmati alam ciptaanNya tanpa tergantung seuntai logam yang membingkai sepasang lensa. Satu-satunya lensa yang membuat saya bersyukur bahwa dia ada adalah lensa kamera.

20080617

Anakku...

Puji Tuhan! Setelah menunggu sekian lama, anak kami lahir pada 28 Mei 2008 di Yogya. Darrell Nathan Raditama. Darrell berarti berkat dari Sorga. Nathan berarti hikmat dari Tuhan. Raditama berarti anak pertama. Setidaknya itulah makna sepengetahuan kami.


Prosesnya cukup panjang. Sejak 27 Mei 2008, istri saya sudah mengalami pecah ketuban. Malamnya, dia merasakan sakit yang timbul tenggelam. Makin lama, rasa sakit itu semakin sering. 28 Mei 2008 pukul 1 dini hari, istri saya ke rumah sakit. Hari rabu itu kami lalui dengan sangat lama. Rasa sakit mendera berkali-kali. Kasihan bila melihatnya berjuang.

Subuh berangsur pagi, pagi berangsur siang, siang berangsur petang. Namun tanda-tanda kelahiran belum juga mengalami kemajuan. Akhirnya, pada pukul 16.50, istri saya sudah mencapai bukaan akhir dan dibawa ke ruang bersalin. Dengan persiapan sebentar bersama dokter, bidan dan suster, istri saya mulai berjuang mengeluarkan sang bayi.

Detik demi detik. Menit demi menit. Istri saya mengejan dan mengejan. Sebagian kepala bayi sudah sempat keluar. Namun masuk lagi karena dorongan yang kurang kuat. Hal ini terjadi hingga empat atau lima kali. Setelah usaha berkali-kali tidak berhasil, dokter menyarankan agar bayi kami dibantu dengan alat vakum. Namun istri dan saya tidak setuju.

Akhirnya, demi melahirkan secara normal, istri saya sebentar beristirahat. Saya pun mendukungnya agar sebentar bernafas. Demi anak, saya minta istri saya mengerahkan segenap tenaganya. Setelah dirasa cukup, istri saya mengejan. Dokter, bidan dan suster turut memberi semangat. Kepala bayi kami keluar sedikit demi sedikit. Diikuti tubuh lalu kakinya. Seorang bayi laki-laki telah lahir.

Pecahlah tangis bayi di ruang bersalin ini. Kulihat dengan seksama bayi itu ketika digendong suster. Puji Tuhan dalam hati karena organ tubuhnya lengkap. Bayi itu dibersihkan dan dibungkus dengan selimut. Karena tangisannya kurang kuat, bayi kami dibantu alat untuk mengeluarkan cairan yang mungkin masuk ke dalam tubuhnya.


Segalanya terasa berbeda sejak itu. Kami memiliki seorang anak. Anak yang Tuhan titipkan kepada kami. Saya masih sering merasa takjub, sedikit tidak percaya atas apa yang telah terjadi. Tuhan menitipkan seorang anakNya kepada kami.

Terima kasih kepada semua teman yang banyak menolong kami. Depa, Noula, Kak Susi, Mike, Nukie, Pece, Shinta, Seoul dan semua yang nggak sempat saya sebut namanya. Tuhan memberkati...

20080519

dag.. dig... dug...

Ini bukan kutipan atau penjelasan tentang karya Putu Wijaya yang berjudul sama. Saya memang sedang was-was menunggu kelahiran anak. Maklum, ini anak pertama. Di awal kehamilan, istri saya mabok berat. Saking beratnya, sempat diopname di RS Bethesda, Yogya. Saat itu, dia muntah terus, sulit makan sampai akhirnya sempat muntah darah. Sempat pula saya tinggalkan karena saya ada tugas berlayar selama sebulan. Dia sempat panik setelah melihat berita cuaca buruk di pesisir utara dan selatan Jawa saat itu.
Saat ini, kami sedang menunggu kelahiran calon bayi yang rajin berpencak-silat di rahim ibunya itu. Dasar, bahkan kepala saya pun pernah ditendangnya saat kepala saya bersandar di perut istri. Kayaknya nggak terlalu sulit mengajarkannya bertahan hidup di alam.
Tuhan sungguh baik, Teman... Dia memberi saya seorang istri yang cukup pengertian kepada saya. Kekurangan dan kelebihannya membuat kami saling mengisi. Dan, saat ini, Tuhan sedang menyiapkan rencanaNya yang indah untuk kami berdua. Anak yang sedang dikandung istri adalah anak berkat yang akan menjadi berkat bagi sesamanya. Nggak peduli betapa dia harus hancur luluh untuk hancur untuk mewujudkannya.
Halah... makin ngelantur, nih. Nggak terarah. Sori. Semoga anak gw kelak bisa jauuuuh lebih baik dari gw.

20080429

Mas Tenta

Semalam saya menyetel lagu "Just the Two of Us." Sebuah lagu lama yang akrab di telinga saya sejak tinggal bersama teman-teman kuliah di sebuah perumahan di Kota Malang, Jawa Timur. Seorang teman, Mas Tenta, sering melantunkan lagu itu, terutama saat dia mandi. Saya akan mengecilkan suara lagu yang sedang saya putar di komputer bila Mas Tenta bernyanyi. Rumah tempat tinggal kami pun lebih cerah dengan nyanyiannya.

Ya, Mas Tenta memiliki suara yang sangat merdu. Mahasiswa Fakultas Pertanian - Universitas Brawijaya itu juga memiliki kemampuan komputer yang cukup hebat. Di waktu senggang, dia berkreasi merancang halaman situs jaringan pribadinya. Semua tertuang di situs pribadinya, mulai dari pemikirannya hingga tentang durian, obyek penelitiannya. Bahkan dia sempat mendapat proyek membangun sebuah situs jaringan sebuah perusahaan swasta di Kota Malang. Tidak sampai di situ, ilmunya tentu ditularkannya juga kepada saya dan teman serumah lainnya.

Senin (28/4) lalu, saya menerima berita mengejutkan tentang kepergian Mas Tenta untuk selamanya. Dia menderita suatu penyakit dan begitu cepat berlalu. Upaya dokter selama seminggu Mas Tenta dirawat di rumah sakit pun tidak sesuai harapan. Tuhan memutuskan memanggilnya pulang segera. Mas Tenta pun pergi pada 26 April 2008 setelah dirawat sejak 19 April 2008.

Kepergiannya begitu mendadak. Banyak sekali orang yang kehilangan Mas Tenta karena dia begitu baik dan sederhana. Hidupnya seperti lilin yang harus luluh karena menyinari lingkungan di sekitarnya. Begitu banyak hal saya pelajari darinya. Begitu besar kasihnya terhadap sesama. Saya kehilangan seorang teman yang mau menjadi sahabat, seorang guru sekaligus kakak.

Mas Tenta.

Selamat jalan, Mas Tenta. Jejak karyamu nggak mungkin terhapus dari benak saya. Trims untuk teladanmu.

20080417

Saya saat ultah pertama. Betapa beruntungnya saya.