Showing posts with label iseng. Show all posts
Showing posts with label iseng. Show all posts

20080923

SANGAT PENTING!

SANGAT PENTING! Dikabarkan bagi seluruh warga Indonesia yang mengetahui keberadaan Bang Toyib mohon untuk mengingatkan atau menasehatkannya untuk segera pulang ke anak dan istrinya. Kirim sebanyak-banyaknya pesan ini agar kita dapat membantu anak dan istri Bang Toyib biar mereka bisa bertemu kembali. Bayangkan sudah 3 kali lebaran dia belum pulang-pulang.... Terima kasih
Pesan di atas saya terima dari seorang teman. Pesan ini cepat menyebar di melalui fasilitas ngobrol virtual seperti Y!M dan Skype. Nggak perlu dibahas lebih dalam. Saya sungguh nggak punya ide ttg sesuatu yang brilian untuk dibahas dari pesan di atas. Tapi setidaknya ada beberapa catatan saya dari pesan di atas.
Lagu dangdut yang kemungkinan berjudul "Bang Toyib" sangat terkenal dan bahkan melekat di hati masyarakat Indonesia.
Hari raya adalah saatnya untuk berkumpul dengan keluarga. Itulah yang juga dirindukan oleh istri dan anak Bang Toyib.
Pencetus pesan ini sangat iseng. Sekaligus berjasa membuat banyak orang tersenyum di tengah himpitan masalah dateline pekerjaan menjelang libur lebaran dan THR yang belum atau nggak akan turun.

20080918

bapak-anak


Ini Closet Duduk, Bung!

Hati saya tergelitik saat membaca dua lembar peringatan di sebuah kamar kecil di salah satu rumah sakit di Yogyakarta. Peringatan ini berisi dua hal, yaitu bahwa closet alias jamban yang ada di ruangan itu adalah jamban duduk dan peringatan kepada pegguna untuk menyiram jamban setelah buang air besar dan kecil.
Sebetulnya peringatan ini agak berlebihan. Betapa tidak, manusia masih harus diingatkan bahwa jamban itu adalah jamban duduk, bukan jamban jongkok. Pengelola gedung berharap siapa pun yang akan menggunakan jamban ini melakukan dengan cara yang benar yaitu dengan posisi duduk saat buang air di atas jamban duduk. Banyak masyarakat Indonesia yang belum terbiasa dengan jamban duduk dan berposisi duduk saat buang air. Sehingga mereka memilih tetap jongkok di atas jamban duduk. Padahal hal ini berbahaya karena jamban duduk dirancang untuk digunakan sambil duduk. Beban tubuh si pengguna tidak akan sepenuhnya ditanggung si jamban bila pengguna duduk. Sebaliknya, bila pengguna jongkok, maka beban tubuhnya sepenuhnya ditanggung oleh si jamban. Itulah sebabnya jamban duduk beresiko pecah bila digunakan sambil duduk. Inilah informasi yang pernah saya terima tentang bahaya jongkok di jamban duduk. Jamban duduk itu pecah dan melukai si pengguna yang sedang termenung saat buang air.
Tentang peringatan supaya menyiram jamban setelah buang air tentunya lebih berlebihan lagi. Peringatan ini mungkin disebabkan kekesalan pengelola gedung karena kamar kecil itu sering berbau sebab tidak disiram setelah digunakan oleh pengunjung. Masalah ini bukan lagi masalah biasa-tidak biasa menggunakan jamban duduk. Tetapi merupakan cermin tingkat kepedulian masyarakat kita terhadap kebersihan. Siapa pun tahu bahwa setiap kotoran yang keluar dari tubuh kita itu sifatnya kotor. Namanya juga kotoran. Upil, keringat, pipis dan feses itu kotor. Jadi harus dibuang pada tempatnya. Maka menyiram jamban sesaat setelah buang air besar dan kecil adalah mutlak supaya tempat buang air itu tetap bersih. Hal ini menjadi lebih dari sekadar masalah estetika, bau-harumnya kamar kecil itu misalnya. Barangkali mereka yang tidak biasa menyiram sesaat setelah buang air itu terbiasa buang air di sungai atau comberan. Buang air di saluran air itu memang tidak perlu disiram. Toh feses atau pipis akan langsung hanyut. Tapi ini bukan sungai atau comberan. Ini kamar kecil yang kotorannya harus disiram supaya masuk ke penampungan bernama tanki kuman (septic tank).
Peringatan serupa saya temui tidak hanya di Yogyakarta. Bahkan di Jakarta pun saya pernah mendapatkannya. Cermin bahwa masyarakat kita belum terbiasa menggunakan jamban sesuai kodrat si jamban dan sering lupa menyiram jamban setelah buang air besar dan kecil. Bila memang mayoritas masyarakat kita tidak terbiasa menggunakan jamban duduk, kenapa harus memaksakan memasang jamban duduk di kamar kecil umum. Pengelola gedung sebaiknya mempertimbangkan hal ini.
Sebagian besar gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan di Jakarta menyediakan jamban duduk lebih banyak daripada jamban jongkok. Seorang teman saya sempat kelimpungan saat mengetahui jamban di suatu pusat perbelanjaan di Jakarta Pusat tidak menyediakan air untuk cebok. Dia tidak terbiasa cebok menggunakan kertas tisu yang disediakan. Kebiasaan serupa pasti melekat di mayoritas masyarakat kita yang lebih terbiasa cebok menggunakan air dan sabun. Bahkan konon kabarnya, panitia Olimpiade Beijing 2008 sempat diprotes negara-negara calon peserta karena sulitnya menemukan jamban duduk di arena-arena olahraga yang akan dijadikan lokasi pertandingan. Panitia berkilah bahwa mayoritas penduduk RRC lebih terbiasa dengan jamban jongkok sehingga mereka ngotot menyediakan jamban jongkok jauh lebih banyak daripada jamban duduk.
Masalah buang air bukan masalah sepele. Ini masalah kesehatan. Nggak heran kalau penduduk barat sangat memerhatikan kebersihan kamar kecilnya. Tapi bukan berarti kita ikut-ikutan budaya barat dengan “pro” jamban duduk dan kertas tisunya. Dengan tetap memerhatikan kebersihan kamar kecil, sebaiknya pengelola gedung menyediakan sarana yang sudah biasa digunakan masyarakat kita. Jangan sampai kamar kecil menjadi masalah karena sarana di dalamnya tidak bisa dimanfaatkan secara optimal. Apalagi bila si calon pengguna sudah kebelet, pikirannya hanya satu, bagaimana dia bisa buang air dengan nyaman dan aman.Sebagai pengguna, kita pun harus melatih diri menyesuaikan diri dengan lingkungan. Termasuk saat menemui jamban duduk saat akan buang air besar. Bila tidak terbiasa, tentunya perlu perjuangan ekstra. Latihan ini membantu kita saat kita berada di lingkungan yang asing dengan budaya asing, termasuk hal budaya bentuk jamban di luar negeri misalnya. Seperti pengalaman saya beberapa tahun lalu saat harus sering berhadapan dengan jamban duduk. Ternyata menggunakan jamban duduk membuat saya tetap bisa buang air besar sambil membaca koran dengan nyaman.

20080728

Krisis Listrik dan Es Dawet


Alamak... betul2 pemanasan global, neh. Kantor saya juga mengalami pemanasan. Tapi ini pemanasan lokal. Krisis listrik ibukota membuar semua penghuninya harus berhemat. Berhubung pemerintah yang menyampaikan himbauan penghematan, maka kantor saya pun berhemat. Karena saya bekerja di kantor pemerintah juga. Harus memberi contoh yang baik, dong...

Dan inilah contohnya. Mematikan sebagian lampu, menghentikan operasi sebagian lift dan menurunkan daya pendingin udara alias AC. Akibatnya, sebagian kantor saya gelap dan gerah. Rasa gerah makin menjadi tatkala harus mengenakan baju seragam. Untungnya, ruang kerja saya dilengkapi jendela yang bisa dibuka dengan ukuran super besar. Meja saya pun berada tepat di bawah lampu yang beruntung bisa menyala hari ini.

Maka pekerjaan saya pun nggak terlalu terganggu. Hanya sedikit merasa panas karena mengandalkan angin sepoi-sepoi yang enggan bertiup. Kancing baju pun saya lepas sebagian. Tapi itu hanya saya lakukan di meja saya. Lumayan daripada harus bermandi keringat seharian.

Saya sepertinya butuh segelas es dawet. Lengkap dengan saus gula merah yang meleleh di sela-sela potongan cincau. Dengan sedikit es yang mengembun di balik dinding kaca bening gelasnya. Slurrp... Nikmat...

Semoga krisis listrik yang membuat gerah ini membawa berkah bagi mereka yang menawarkan kesejukan, baik lahir maupun batin. Amiiiiin....

20080627

Tompi Bernyanyi untuk Saya! Hanya untuk Saya!

Sungguh, Tompi bernyanyi untuk saya! Hanya untuk saya!

Kalimat demi kalimat terucap melalui suaranya yang merdu. Lagu-lagunya tentang cinta, wanita dan kecintaannya pada musik. Diiringi petikan gitar yang padu dengan drum, bas, piano dan berbagai alat musik lainnya.
Sudah beberapa lagu dinyanyikannya. Walau saya tidak memberinya pujian, bahkan saya kerap bersikap mengacuhkannya, tapi Tompi terus bernyanyi. Lagu-lagunya membuat pagi saya di hari ini semakin cerah. Saya pun bisa konsentrasi berkutat pada pekerjaan saya. Memandangi baris demi baris tugas yang sedang saya ketik dengan tenang. Itu semua berkat Tompi yang terus bernyanyi tanpa henti, tanpa mengeluh. Bila suaranya kurang keras, saya bisa menambah volume suaranya. Bila terlalu keras, saya tinggal mengurangi volumenya. Mudah sekali. Dan tanpa keluhan dari Tompi sama sekali.

Tompi terus bernyanyi hingga tak terasa sudah satu album selesai dinyanyikannya. Kini giliran Melly Goeslaw bernyanyi untuk saya. Album solonya yang berjudul "Sendiri Dulu" menjadi pilihan. Si pencipta lagi paling produktif dan populer di Indonesia itu pun mulai bernyanyi. Sama seperti Tompi, teh Melly, demikian teman-teman dekatnya memanggilnya demikian, tidak mengeluh bernyanyi untuk saya. Satu per satu liriknya yang berkarakter kuat mengalir dari mulutnya.

Hm... indahnya hidup ini. Penyanyi besar Indonesia tidak segan-segan bernyanyi untuk saya. Hanya untuk saya. Tompi dan Melly, hingga Slank dan God Bless siap sedia bernyanyi untuk saya. Kapan pun saya mau mendengarkan mereka. Tanpa bersungut-sungut, mereka bernyanyi. Tanpa tersinggung, mereka pun bisa diganti dengan penyanyi lain oleh saya.

Oh... indahnya MP3 bajakan! Ruang kerja di kantor, kamar di rumah dan di mana pun saya bekerja, semua menjadi lebih terasa nyaman dengan lagu-lagu mereka. Koleksi saya sebetulnya tidak selengkap teman-teman saya karena selera musik saya terbatas. Walau tidak pandai bermusik, saya termasuk selektif untuk menyatakan seorang penyanyi atau sebuah kelompok musik itu bagus atau pas-pasan. Sombongnya saya dalam berselera musik membuat saya hanya menyukai beberapa penyanyi.

Tapi ruang kerja saya termasuk paling sering diwarnai musik. Sejak tiba di kantor hingga akan pulang kerja, ruang kerja saya jarang sekali senyap tanpa musik. Walau kebanyakan musik yang saya putar saya dapatkan dengan cara ilegal, yaitu menyalinnya dari teman. Tindakan ini dimasukkan ke dalam kategori pembajakan. Ya, saya pembajak lagu orang. Hanya beberapa yang saya beli legal berupa album resmi dalam bentuk cakram kompak lalu saya ubah formatnya agar lebih mudah diputar di komputer.

Sungguh saya mohon maaf kepada Tompi, Melly dan semua artis Indonesia yang telah saya putar lagunya tanpa saya bayar royalti kepada mereka. Sungguh saya masih merasakan mahalnya harga album mereka. Walau pun karya mereka sebetulnya jauh lebih mahal dari sekadar sekeping cakram kompak berisi lagu yang dibalut kertas sebagai sampulnya. Saya memang egois. Mau menikmati karya orang lain tanpa menghargainya secara material. Saya berjanji, saya tidak akan marah bila karya saya dibajak orang bila saya menjadi penyanyi atau pemusik terkenal seperti kalian. Tapi kapan ya, saya bisa seperti kalian?

20080626

kacamata - mata berkaca - mata berkaca-kaca

Huh...
Sungguh aku bosan berkacamata. Seuntai logam yang membingkai sepasang lensa ini semakin terasa sebagai beban dan menyulitkan. Merepotkan karena harus sering dilap. Menyulitkan saat memakai helm. Menyulitkan saat mengintip dari jendela rana kamera dan mikroskop. Mata minus ini betul-betul menyulitkan. Juga membuat saya tidak leluasa memakai kacamata penangkal sinar matahari yang saya beli dengan harga murah di Blok M.
Dulu, saat masih di bangku sekolah, saya ingin sekali pakai kacamata. Supaya terlihat agak ganteng. Maklum, muka saya pas-pasan. Tapi, saat itu, saya nggak punya alasan untuk memakainya karena mata saya sehat sentosa. Saat itu, saya kadang berharap mata saya menjadi minus agar saya punya alasan berkacamata. Pikiran yang saya anggap bodoh sekarang. Saatnya memang tiba. Saat duduk di kelas 3 SMU, mata saya minus. Lihat obyek yang jauh tampak buram. Kesulitan menyimak penjelasan guru sekolah, saya pun memakai kacamata. Tampak ganteng? Hm... Mungkin. Yang jelas, saya bisa membaca tulisan di papan tulis dari barisan belakang kelas.
Waktu pun berlalu hingga saya kuliah. Kuliah di bidang pemanfaatan sumberdaya perikanan yang banyak praktek lapang, termasuk berlayar. Kesulitan mulai terasa karena kacamata menghambat kegiatan luar ruang. Berlayar diterjang ombak dan hujan membuat kacamata saya basah kuyup. Melepasnya saat kondisi seperti itu juga tidak baik. Berada di sebuah kapal kecil di tengah laut gelap gulita yang sedang bergelombang bisa jadi sama dengan bunuh diri.
Bahkan kesulitan itu terasa di kegiatan dalam ruang. Seperti saat harus menggunakan mikroskop saat praktikum. Apa daya, semua harus dijalani.
Saya hanya ingin mata kembali sehat. Sehingga tidak ada lagi beban dan hambatan untuk beraktivitas. Lagipula kacamata terbukti tidak signifikan mengatrol nilai wajah saya. Saya ingin sembuh. Tapi saya nggak mau operasi. Selain karena nggak punya cukup uang untuk itu, minus mata saya tergolong kecil untuk dioperasi. Saya mencari obat tradisional yang bisa mengobati mata minus. Istri saya pernah pulih mata minusnya karena obat tradisional yang diberikan tetangganya saat tinggal di Samarinda. Sayangnya, istri saya nggak tahu resepnya.
Berat betul hidup berkacamata. Saran saya, jangan pernah bermimpi untuk berkacamata. Apalagi hanya sekadar untuk terlihat ganteng. Nggak penting! Satu yang paling penting adalah mata sehat waalfiat. Bisa menikmati alam ciptaanNya tanpa tergantung seuntai logam yang membingkai sepasang lensa. Satu-satunya lensa yang membuat saya bersyukur bahwa dia ada adalah lensa kamera.

20070620

Siapa yang Memelihara Ikan?

Ada 5 rumah yang warnanya berbeda-beda. Tiap rumah dihuni orang berkebangsaan berbeda-beda juga. Tiap penghuni suka 1 jenis minuman tertentu, merokok 1 merk tertentu & melihara 1 jenis hewan tertentu yang berbeda satu denga lainnya.
PERTANYAAN: Siapa yang memelihara IKAN?
Petunjuk: 1) Orang Inggris tinggal di dalam rumah merah. 2) Orang Swedia melihara anjing. 3) Orang Denmark suka teh. 4) Rumah hijau tepat di sebelah kiri rmh putih. 5) Penghuni rmh hijau suka kopi. 6) Orang yang merokok Pall Mall melihara burung. 7) Penghuni rumah yg terletak di tengah-tengah suka susu. 8) Penghuni rumah kuning merokok Dunhill. 9) Orang Spanyol tinggal di rmh pertama. 10) Orang yg merokok Marlboro tinggal di sebelah org yg melihara kucing. 11) Orang yg melihara kuda tinggal di sebelah org yg merokok Dunhill. 12) Orangg yg merokok Winfield suka minum bir. 13) Di sebelah rumah biru tinggal orang Spanyol. 14) Orang Jerman merokok Rothmans. 15) Orang yang merokok Marlboro bertetangga dengan orang yang suka minum air putih.

(Pertanyaan iseng ini saya peroleh dari seorang teman yang enggan disebutkan namanya dengan alasan keamanan. Baca aturan pakai. Baca pakai aturan.)