20080417
Posted by
Edwison
at
15:36
2
comments
Labels: kisah
20080416
Hartop...
Hartop adalah Hari Murtopo, seorang teman semasa kuliah di Malang. Dua tahun terakhir gw di sana nyaris selalu berhubungan dengan beliau karena satu kos dan lalu sama-sama pindah ke rumah pembinasaan yang sama di Griya Shanta. Sudah menjadi kebiasaan kami untuk main gitar untuk menghabiskan malam tanpa makna. Salah satu lagu favoritnya ya lagunya Caffeine itu. Gw sendiri heran betapa senangnya dia menyanyikan lagu itu, terutama di malam hari sambil menatap rasi bintang nggak jelas.

Rumah pembinasaan yang legendaris itu. Sinar terang di dalamnya adalah tanda pencerahan kepada penghuninya sedang berlangsung. Dasyaaat...
Semalam, saat lagu itu dilantunkan di pengeras suara komputer, pikiran saya seperti melayang mundur jauh ke belakang. Terbesit semua ingatan tentang apa yang saya lalui bersama teman-teman di Malang. Memanen pisang dan terung di sebelah rumah, memasak mi instan plus daun ginseng yang dicabut dari depan rumah, bekerja bakti membersihkan rumah dan main basket di sore hari adalah kegiatan yang sering kami lakukan. Suka-duka kami alami bersama. Gembira saat salah satu teman lulus, tapi juga sedih karena harus berpisah.
Ah, sudahlah. Pengalaman itu salah satu yang menempa saya. Terima kasih kepada Tuhan untuk teman-teman yang boleh menjadi bagian hidup saya. Saya kangen Hartop, Rere, Rino, Tenta dll. Kemana saja kalian?
Lha, ini si Hartop bersama saya di salah satu acara kampus. Semoga pencantuman fotonya ini nggak menjatuhkan popularitas blog saya yang sepi pengunjung ini.
Posted by
Edwison
at
14:53
0
comments
Labels: kisah
20080325
Secara gw orang Indonesia, gitu lhooo...
Buset... satu lagi contoh pergeseran makna kosakata bahasa Indonesia. Beberapa minggu lalu, saya berkomunikasi dengan seorang teman dari Indonesia yang sedang kuliah di Belanda. Dia sedikit bercerita tentang pengalamannya bersepeda di sana. Beginilah kira-kira kutipannya.
"Gw kuliah naik sepeda ke kampus. Secara orang-orang di sini mayoritas kemana-mana pake sepeda."
Hah! Gw setengah kaget seorang teman nun jauh di sana pun ikut2an memakai kata "secara" yang menurut saya bukan pada tempatnya. Sampai detik ini pun saya belum paham makna kata "secara" dalam kalimat itu. Pun pada kalimat-kalimat sejenis yang diucapkan teman-teman saya di Jakarta. Hanya saja saya heran begitu cepat "virus" ini menyebar. Mereka yang mengucapkannya seperti merasa gaul bila menebar kata-kata asing ini di kalimatnya.
Huh!
Posted by
Edwison
at
11:44
0
comments
Labels: kisah, tempolong ludah
