Beberapa hari lalu, saya ke kelurahan di tempat tinggal saya untuk mengurus beberapa surat kependudukan saya. Saat itu saya dilayani oleh Pak A. Setelah beberapa lama, surat yang saya butuhkan selesai dibuat oleh beliau. Saat penyerahan surat tersebut, saya diminta memberikan sejumlah uang sebagai "biaya administrasi". Saya mengerti maksudnya, dan hendak memberikan sesuai penilaian saya bahwa itu cukup sebagai "uang lelah" (walau Pak A tidak sampai berkeringat untuk mengurusnya). Namun "uang administrasi" pemberian saya ditolak karena tidak sesuai "standar". Akhirnya, saya pun terpaksa memberikan sesuai permintaannya. Namun saya tidak menerima tanda bukti pembayaran "biaya administrasi" tersebut. Padahal, setahu saya, setiap pembayaran resmi, apalagi di instansi pemerintah, pasti disertai bukti pembayaran.
20070313
20070312
Lari
Waktu begitu cepat berlalu.
Meninggalkan semua hal.
Baik, buruk masa hidup yang lewat.
Ingin kembali dan menata yang belum tuntas.
Tetapi waktu tidak berhenti apalagi mundur.
Cuma satu yang tersisa:
tenaga untuk selesaikan yang di muka.
Posted by
Edwison
at
13:10
0
comments
Labels: tempolong ludah
20070216
Kisah yang Belum Usai
Semua orang yang masih terlelap bangkit dari tidurnya, semua orang terbirit mencari aman di luar rumah. Rumah yang selama ini meneduhi kehidupannya berubah bak neraka yang memunahkan siapa pun yang berada di dalamnya. Atap rumah bisa runtuh kapan saja akibat goncangan hebat sang bumi dan nyawa siapa pun bisa tercabut seketika akibatnya.
Banyak orang berhasil keluar meninggalkan rumahnya. Namun banyak lagi yang terjebak di reruntuhan. Sebagian dapat diselamatkan kerabat atau siapa pun yang melihatnya. Beberapa lagi meregang nyawa di reruntuhan rumah sendiri. Namun ada pula yang berkorban menyelamatkan buah hatinya. Seorang nenek meninggal, kepalanya tertimpa reruntuhan tembok saat melindungi cucu tercinta. Seorang ibu muda mengalami pendarahan di mata demi menahan reruntuhan tembok yang akan menimpa bayi mungilnya. Masih banyak lagi perngorbanan sang kekasih demi sang terkasih.
Listrik mati, telepon terputus dan matilah alur informasi. Kabar yang segera tersebar di penjuru Nusantara menghenyak setiap benak. Teringat kerabat di lokasi bencana gempa bumi lalu berusaha mencari kabar. Tidak ada sedikit pun jawaban dari seberang telepon. Kepanikan menyelimuti mereka yang saudaranya diduga menjadi korban bencana.
“Tsunami… tsunami…”
Lokasi gempa yang di tepi laut mendatangkan kepanikan lain. Belajar dari pengalaman lalu di belahan bumi yang lain, mereka panik lalu menjauhi pantai. Serentak ribuan orang tumpah ruah di jalan, berusaha menyelamatkan diri dari kemungkinan tersapu ombak yang pernah menggeliat dan memunahkan ratusan ribu orang sesaat setelah gempa.
Satu jam berlalu…
…
Dua jam berlalu…
…
Sang gelombang maha besar itu tidak datang. Atau belum datang? Antara yakin dan ragu, penduduk kembali menuju rumahnya masing-masing. Rumah yang sudah luluh lantak.
Ah, rumah itu tidak ada lagi. Hanya bersisa puing reruntuhan. Sang istri tercinta hanya duduk lemas di bawah pohon di halaman rumah yang tidak ada bangunan rumahnya lagi. Anak-anak menangis melihat kedua orang tuanya tidak setegar biasanya. Dengan tangan kosong atau kayu, mereka mengais sisa harta yang tidak seberapa. Menyelamatkan benda berharga agar kesialan ini tidak terlalu sial.
Dusun ini telah habis. Tak satu pun rumah tersisa. Ratusan orang kehilangan tempatnya bernaung dari panas dan hujan. Kepala dusun yang bernasib sama tetaplah seorang kepala dusun, bertanggung jawab memikirkan nasib warganya walau mungkin anggota keluarganya pun ada yang menjadi korban.